Tuesday, June 19, 2012

Anak Indigo


Anak indigo atau anak nila (bahasa Inggris: Indigo children) adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini memiliki kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Konsep ini merupakan ilmu semu yang didasarkan dari gagasan Zaman Baru pada tahun 1970-an.

Konsep ini mulai terkenal setelah diterbitkannya beberapa buku pada akhir tahun 1990-an dan dirilisnya beberapa film satu dasawarsa kemudian. Interpretasi mengenai indigo ada bermacam-macam: dari yang meyakini bahwa mereka adalah tahap evolusi manusia selanjutnya (yang bahkan mempunyai kemampuan paranormal seperti telepati) hingga yang menyebut anak indigo sebagai orang yang lebih empatik dan kreatif.

Meskipun tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka, fenomena ini menarik perhatian orang tua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar atau yang ingin anaknya spesial. Kaum skeptik memandangnya sebagai cara orang tua menghindari penanganan pediatrik atau diagnosis psikiatrik yang tepat. Daftar sifat yang dimiliki anak indigo juga dikritik karena terlalu umum sehingga dapat diterapkan untuk hampir semua orang (efek Forer). Fenomena indigo juga dituduh sebagai alat untuk menambang uang dari orang tua yang mudah ditipu.

Asal usul Anak Indigo

Konsep anak indigo pertama kali dikemukakan oleh cenayang Nancy Ann Tappe pada tahun 1970-an. Pada tahun 1982, Tappe menerbitkan buku Understanding Your Life Through Color (Memahami Hidup Anda Melalui Warna)[2] yang menjelaskan bahwa semenjak pertengahan tahun 1960-an, ia mulai menyadari bahwa ada banyak anak yang lahir dengan aura "indigo"(dalam publikasi lain Tappe juga mengatakan bahwa warna indigo atau nila berasal dari "warna kehidupan" anak yang ia dapatkan melalui sinestesia[5]). Gagasan ini kemudian dipopulerkan oleh buku yang berjudul The Indigo Children: The New Kids Have Arrived (Anak Indigo: Anak-anak Baru Telah Tiba) pada tahun 1998.

Buku ini ditulis oleh Lee Carroll dan Jan Tober.[6] Pada tahun 2002, konferensi internasional untuk anak indigo yang dihadiri oleh kurang lebih 600 orang diadakan di Hawaii. Konferensi pada tahun-tahun berikutnya diadakan di Florida dan Oregon. Beberapa film bertajuk indigo juga telah dibuat, seperti Indigo pada tahun 2003[7] yang disutradarai oleh James Twyman. Film mengenai indigo juga dirilis di Rusia pada tahun 2008.

Dalam sebuah artikel di Nova Religio pada tahun 2009, Sarah W. Whedon pada tahun 2009 mengusulkan bahwa konstruksi sosial anak indigo merupakan tanggapan terhadap "krisis anak-anak Amerika" yang tampak dalam bentuk peningkatan kekerasan anak-anak dan diagnosis attention deficit disorder dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Whedon meyakini bahwa orang tua melabeli anak mereka sebagai "indigo" sebagai penjelasan alternatif bagi ADD dan ADHD anak mereka.[3]

Karakteristik Anak Indigo

Beberapa ciri anak indigo adalah:
Empatik, penuh rasa ingin tahu, berkeinginan kuat, independen, dan sering dianggap aneh oleh teman dan keluarga
Mengenal dirinya dan memiliki tujuan yang jelas
Memiliki spiritualitas di bawah sadar yang kuat semenjak kecil
Meyakini bahwa dirinya layak untuk berada di dunia.
Beberapa ciri lain adalah:

Memiliki IQ yang tinggi, mempunyai kemampuan intuitif, dan
Sering menolak mengikuti aturan atau petunjuk.
Menurut Tober dan Carroll, anak indigo mungkin tidak memiliki performa yang baik di sekolah karena menolak mengikuti aturan, lebih pintar (atau lebih matang secara spiritual) dari guru mereka, dan kurang tanggap terhadap disiplin yang didasarkan kepada rasa bersalah, takut atau manipulasi.

Hubungan dengan attention-deficit hyperactivity disorder

Banyak anak yang dilabeli indigo oleh orang tua mereka yang didiagnosis mengalami attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan buku Tober dan Carroll yang berjudul The Indigo Children sendiri menghubungkan konsep indigo dengan diagnosis ADHD.Robert Todd Carroll menyatakan bahwa pelabelan anak-anak sebagai indigo merupakan alternatif dari diagnosis yang seolah menunjukkan ketidaksempurnaan, kecacatan atau penyakit kejiwaan.

Setelah menghubungkan konsep anak indigo dengan ketakutan terhadap penggunaan Ritalin untuk mengontrol ADHD, Carroll berpendapat bahwa ketakutan akan penggunaan Ritalin telah memperkeruh suasana, dan berdasarkan pilihan yang ada, tentu adalah sesuatu yang masuk akal apabila orang tua lebih memilih meyakini bahwa anak mereka itu spesial dan terpilih untuk misi yang penting daripada menerima kenyataan bahwa anak mereka mengidap penyakit kejiwaan.

Stephen Hinshaw, profesor psikologi di Universitas California, Berkeley, menyatakan bahwa ketakutan akan kelebihan pengobatan terhadap anak itu masuk akal, namun anak berbakat yang didiagnosis ADHD dapat belajar lebih baik dengan lebih banyak struktur, bahkan jika struktur tersebut awalnya mengakibatkan kesulitan. Banyak anak yang dilabeli inidgo telah dimasukkan ke sekolah rumah.

Kritik Anak Indigo

Menurut psikolog Russell Barkley, pergerakan Zaman Baru belum menghasilkan satu bukti pun mengenai keberadaan anak indigo, dan 17 sifat yang dikaitkan dengan anak indigo itu merupakan efek Forer (atau dalam kata lain, terlalu umum sehingga dapat dikaitkan dengan hampir semua orang). Konsep indigo dikritik terdiri dari sifat-sifat yang terlalu umum, dan juga dianggap sebagai diagnosis palsu yang sama sekali tidak didukung oleh sains.

Kurangnya dasar ilmiah untuk konsep indigo diakui oleh beberapa tokoh pendukung indigo seperti Doreen Virtue, pengarang buku The Care and Feeding of Indigos, dan James Twyman, orang yang membuat dua film mengenai indigo.
Ahli kesehatan kejiwaan juga khawatir karena pelabelan indigo dapat menghambat diagnosis dan penanganan yang tepat yang dapat membantu sang anak.

Ahli lain juga menyatakan bahwa sifat-sifat anak indigo dapat diinterpretasikan sebagai pembangkangan dan kewaspadaan belaka.
Nick Colangelo, profesor di Universitas Iowa, menyatakan bahwa buku indigo pertama seharusnya tidak diterbitkan, dan bahwa "...pergerakan anak indigo itu bukan mengenai anak-anak, dan juga bukan mengenai warna indigo, tapi mengenai orang dewasa yang menyebut diri mereka sebagai ahli dan mengeruk uang dari buku, presentasi dan video."

Komersialisasi Anak Indigo

Di artikelnya yang berjudul "Indigo: The Color of Money" (Indigo: Warna Uang), Lorie Anderson menuduh bahwa Twyman dan organisasinya adalah "penipu Zaman Baru yang mencari keuntungan." Menurutnya, kepercayaan akan anak indigo dapat menghasilkan banyak uang dari penjualan buku, video, sesi bimbingan untuk anak-anak, serta sumbangan.Saat ini ada berbagai macam buku, film, kemah musim panas, dan konferensi yang ditargetkan untuk orang tua yang meyakini bahwa anak mereka adalah seorang indigo.

Sumber : http://id.wikipedia.org

Tuesday, October 20, 2009

7 Langkah Membangun Percaya Diri Yang Tak Tergoyahkan




Tak dapat dipungkiri kita semua pasti pernah mengalami rasa tak percaya diri sesekali waktu. Adakalanya agak sulit untuk membangkitkan kembali rasa percaya diri itu sewaktu kita sedang membutuhkan. Sebenarnya ada latihan sederhana yang dapat dipraktekkan untuk mendapatkan rasa percaya diri Anda agar kembali ke jalurnya secepat mungkin saat dibutuhkan. Berikut kami sampaikan tujuh langkah membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan.

1. Perhatikan Postur Tubuh - Mungkin kedengarannya ini tak memiliki hubungan dengan rasa percaya diri yang kita bicarakan ini, tetapi sebenarnya bagaimana sikap duduk atau berdiri Anda, mengirimkan pesan tertentu pada orang-orang yang ada di sekekliling Anda. Jika pesan tersebut memancarkan rasa percaya diri, Anda akan mendapatkan tanggapan positif dari orang lain dan tentu saja ini akan memperbesar rasa percaya diri Anda sendiri. Jadi mulai perhatikan sikap duduk dan berdiri untuk menunjukan Anda memiliki rasa percaya diri.

2. Bergaulah Dengan Orang-Orang Yang Memiliki Rasa Percaya Diri Dan Berpikiran Positif - Lingkungan membawa pengaruh besar pada seseorang. Jika Anda terus menerus berbaur dengan orang yang memiliki rasa rendah diri, pengeluh dan pesimis, seberapa besarpun percaya diri yang Anda miliki, perlahan tapi pasti akan pudar dan terseret mengikuti lingkungan Anda. Sebaliknya, jika Anda dikelilingi orang-orang yang penuh kebahagiaan dan percaya diri, makan akan tercipta pula atmosfir positif yang membawa keuntungan bagi diri Anda.

3. Ingat Kembali Saat Anda Merasa Percaya Diri - Percaya diri adalah sebuah perasaan, dan jika Anda pernah merasakannya sekali, tak mustahil untuk merasakannya lagi. Mengingat kembali pada saat dimana Anda merasa percaya diri dan terkontrol akan membuat Anda mengalami lagi perasaan itu dan membantu meletakan kerangka rasa percaya diri itu dalam pikiran.

4. Latihan - Kapanpun Anda ingin merasakan rasa percaya diri, kuncinya adalah latihan sesering mungkin. Bahkan Anda dapat membawanya dalam tidur. Dengan kemampuan yang terlatih, Anda tak akan kesulitan menampilkan rasa percaya diri kapanpun itu dibutuhkan.

5. Kenali Diri Sendiri - Pikirkan segala hal tentang apa yang Anda sukai berkenaan dengan diri sendiri dan segala yang Anda tahu dapat Anda lakukan dengan baik. Jika Anda kesulitan melakukan ini, ingat tentang pujian yang Anda peroleh dari orang-orang - Apa yang mereka katakan - Anda melakukannya dengan baik? Sebuah gagasan bagus untuk menuliskan semua ini, hingga Anda bisa melihatnya lagi untuk mengibarkan rasa percaya diri kapanpun Anda membutuhkan inspirasi.

6. Jangan Terlalu Keras Pada Diri Sendiri - Jangan terlalu mengkritik diri sendiri, jadilah sahabat terbaik bagi diri Anda. Namun, saat seorang teman sedang melalui masa sulit, Anda tak akan mau terlibat dalam masalahnya hingga menguras emosi Anda sendiri kan? Tentu saja Anda tak mau. Pebicaraan yang positif dapat berubah jadi senjata terbaik untuk menaikan rasa percaya diri, jadi pastikan Anda menanam kebiasaan ini, jangan biarkan permasalahan orang lain membuat Anda jadi terpuruk.

7. Jangan Takut Mengambil Resiko - Jika Anda seorang pengambil resiko, Anda pasti akan temukan kalau tindakan ini mampu membuahkan rasa percaya diri. Tak ada yang lebih bermanfaat dalam menumbuhkan rasa percaya diri layaknya mendorong diri sendiri keluar dari zona nyaman. Selain itu, tindakan ini juga berfungsi bagus untuk mengurangi rasa takut Anda akan ha-hal yang tak Anda ketahui, plus bisa dari pembangkit rasa percaya diri yang luar biasa.

Lebih dari segalanya, selalu ingatlah bahwa Anda memiliki bakat dan kemampuan. Pastikan Anda selalu melakukan yang terbaik untuk semua itu dan inilah yang akan jadi batu loncatan terbaik untuk membangun rasa percaya diri yang tak tergoyahkan. (erl)

Sumber : KapanLagi.Com

Wednesday, September 30, 2009

Gempa Aceh 7,6 skala Richter




Gempa berkekuatan 7,6 skala Richter (SR) yang mengguncang Sumatera Barat pukul 17.16 WIB juga dirasakan warga di Banda Aceh sehingga menimbulkan kepanikan.

"Kita semua yang sedang bekerja di gedung lantai dua berhamburan turun karena merasakan getaran gempa," kata Hendrik, seorang warga di Banda Aceh, Rabu (30/9).

Di Provinsi Aceh, gempa kuat juga dirasakan warga yang berdiam di Kabupaten Aceh Barat, Aceh Selatan, dan Subulussalam, serta Aceh Singkil, sedangkan warga Banda Aceh hanya merasakan guncangan kecil.

Kepala Stasiun Geofisika di Banda Aceh Syahnan menyatakan, gempa kuat itu berpusat di kawasan Pariaman (Sumbar) dan juga dirasakan warga di Provinsi Aceh.

"Gempa bukan terjadi di Aceh, tetapi di Pariaman (Sumbar). Kita di Aceh juga merasakan guncangan, terutama yang berada di pesisir barat dan selatan Aceh," katanya.

Syahnan mengatakan, gempa diperkirakan berkisar antara III sampai IV Modified Mercally Intensity (MMI). Sementara di Banda Aceh dan sekitarnya hanya II MMI.

"Warga pesisir di Aceh Selatan terlihat panik karena guncangan berkisar antara III sampai IV MMI itu," katanya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa tersebut terjadi pada episentrum 0,84 lintang selatan (LS) dan 99,65 bujur timur (BT).

Pusat gempa berada pada 57 km barat laut Pariaman, Provinsi Sumbar, dengan kedalaman 71 km. Belum ada laporan korban jiwa di Aceh akibat gempa tersebut.

Sumber : Kompas.Com

Monday, September 14, 2009

Sekitar 50 Psikiater Segera Dikerahkan Bantu Korban Gempa




Sedikitnya 50 orang psikiater dari Bandung akan dikerahkan ke sembilan kabupaten yang terkena dampak gempa, Rabu (2/9) lalu. Selain membuka posko konseling, mereka akan memberi pelatihan singkat kepada sejumlah orang yang berhadapan langsung dengan para korban gempa.

"Mereka (korban gempa) kan banyak yang depresi, cemas, macam-macam, itu harus dibantu," kata Kepala Bagian Psikiatri Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, dr. Teddy Hidayat, Minggu (6/9).

Usai pertemuan di kantor Dinas Kesehatan Jawa Barat, dia mengatakan, pelatihan itu akan diberikan kepada kader, tokoh masyarakat, dan dokter Puskesmas. Rencananya, pelatihan itu cukup diberikan dalam waktu singkat hanya enam jam. "Jadi selain mengobati yang patah tulang, mereka juga mengajak bicara, memberi dukungan, itu saja sudah bagus," ujar dia.

Teddy mengatakan, mereka yang telah dilatih harus bisa mengurangi tekanan mental korban bencana. Pelatihan itu sendiri untuk mengatasi terbatasnya jumlah psikiater, sementara korban yang harus ditangani mencapai belasan ribu orang di sembilan daerah.

Sekitar 35 orang psikiater berasal dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, sisanya dari anggota organisasi profesi psikiater. Di lokasi, mereka akan dibagi dalam posko untuk membimbing korban gempa yang sulit ditangani. "Lokasi penempatannya menunggu arahan Dinas Kesehatan (Jawa Barat)," ujar dia.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat Alma Lucyati mengatakan, penetapan waktu pelatihan dan lokasi bagi para psikiater itu akan dibahas besok atau lusa. "Pengerahan itu tidak terlalu mendesak," kata dia. Menurut Alma, Dinas sekaligus akan mengerahkan dokter anak karena anak-anak juga banyak yang jadi korban bencana.

Gempa berkekuatan 7,3 skala Richter mengguncang Jawa Barat dan sekitarnya pada 2 September. Sedikitnya 70 orang tewas dalam bencana tersebut. Gempa berpusat di kedalaman 30 kilometer di bawah Samudra Indonesia, sekitar 142 km di barat daya Tasikmalaya.

Sumber : www.tempointeraktif.com

Tuesday, August 4, 2009

Pancasila Sebagai Etika Moral Politik




Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang telah disahkan sebagai dasar negara adalah merupakan suatu kesatuan utuh nilai-nilai budi pekerti atau moral. Oleh karena itu Pancasila dapat disebut sebagai moral bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia telah menegara dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian Pancasila juga merupakan moral negara, yaitu moral yang berlaku bagi negara.

Selain itu Pancasila merupakan gagasan fundamental tentang kehidupan manusia, dimana nilai-nilai tersebut melekat pada kodrat setiap individu. Dari sebab itu kelima nilai Pancasila itu berlaku bagi perseorangan maupun sebagai masyarakat.

Secara etimologis Pancasila berarti lima asa kewajiban moral. Yang dimaksud dengan moral ialah keseluruhan norma dan pengertian yang menentukan baik atau buruknya sikap dan perbuatan manusia. Yang dimaksudkan dengan norma adalah prinsip atau kaidah yang memberikan perintah kepada manusia untuk melakukan sesuatu atau suatu larangan bagi manusia untuk melakukan suatu perbuatan.Dengan memahami norma-norma, manusia akan tahu apa yang harus atau wajib dilakukannnya dan apa yang harus dihindari. Jika manusia mematuhi perintah norma disebut baik, sebaliknya jika melanggar disebut jahat.

Terdapat hubungan antara nilai dengan norma. Norma atau kaidah adalah aturan pedoman bagi manusia dalam berprilaku sebagai perwujudan dari nilai. Nilai yang abstrak dan normative dijabarkan dalam wujud norma. Sebuah nilai mustahil dapat menjadi acuan berprilaku kalau tidak diwujudkan dalam sebuah norma. Dengan demikian pada dasarnya norma adalah perwujudan dari nilai. Tanpa dibuatkan norma, nilai tidak bisa praksis artinya tidak mampu berfungsi konkrit dalam kehidupan sehari-hari.Akhirnya yang tampak dalam kehidupan dan melingkupi kehidupan kita adalah norma. Norma yang kita kenal dalam kehidupan shari-hari ada 4 (empat), yaitu sebagai berikut :

Norma Agama

Norma ini disebut juga dengan norma religi atau kepercayaan. Norma kepercayaan dan keagamaan ditunjukkan kepada kehidupan beriman. Norma ini ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan dan dirinya sendiri. Sumber norma ini adalah ajaran-ajaran kepercayaan atau agama yang oleh pengikut-pengikutnya dianggap sebagai perintah Tuhan.Tuhanlah yang mengancam pelanggaran-pelanggaran norma kepercayaan atau agama itu dengan sanksi.

Norma Moral (Etika)

Norma ini disebut juga dengan norma kesusilaan atau etka atau budi pekerti . Norma moral atau etik adalah norma yang paling dasar. Norma moral menentukan bagaimana kita menilai seseorang. Norma kesusilaan berhubungan dengan manusia sebagai individu karena menyagkut kehidupan pribadi.

Norma Kesopanan

Norma kesopanan disebut juga norma adat, sopan santun, tata karma atau norma fatsoen. Norma sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kepatuhan atau kepantasan yang berlaku dalam masyarakat. Daerah berlakunya norma kesopanan itu sempit , terbatas secara lokal atau pribadi. Sopan santun di suatu daerah tidak sama dengan daerah lain. Berbeda lapisan masyarakat, berbeda pula sopan santunnya. Sanksi atas pelanggaran norma kesopanan berasal dari masyarakat setempat.

Norma Hukum

Norma hukum berasal dari luar diri manusia. Norma hukum berasal dari kekuasaan luar diri manusia yang memaksakan kepada kita. Masyarakat secara resmi (negara) diberi kuasa untuk member sanksi atau menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini pengadilanlah sebagai lembaga yang mewakili masyarakat resmi untuk menjatuhkan hukuman.

Sebagai seperangkat nilai dasar, Pancasila harus dijabarkan kedalam norma agar praksis dalam kehidupan bernegara. Norma yang tepat sebagai penjabaran atas nilai dasar Pancasila tersebut adalah norma etik dan norma hukum. Pancasila dijabarkan sebagai norma etik karena pada dasarnya nilai-nilai dasar Pancasila adalah nilai-nilai moral. Jadi, Pancasila menjadi semacam etika perilaku para penyelenggara negara dan masyarakat Indonesia agar sejalan dengan nilai normative Pancasila itu sendiri.

Pengalaman sejarah pernah menjadikan Pancasila sebagai semacam norma etik bagi perilaku segenap warga negara bangsa. Yaitu Ketetapan MPR No.II/MPR/1998 tentang P4 dapat dianggap sebagai etika sosial dan etika politik bagi bangsa Indonesia atas nilai-nilai Pancasila. Penataran P4 dan segala atributnya dianggap gagal bukan karena kesalahan nilai dan norma dari Pancasilanya tetapi cara pendekatannya yang indoktrinatif dan monolitik.Terlebih lagi penataran P4 terkesan bukan untuk penyelenggara negara tapi dipaksakan pada warga. Justru para penyelenggara negaralah yang seharusnya memiliki nilai dan norma. Bernegara karena merekalah yang menyelanggarakan negara dan menjadi contoh bagi bagi rakyatnya. Para pejabat negara malahan banyak menyimpang dari apa yang dipidatokan kepada warga negara.

Di era sekarang ini tampaknya kebutuhan akan norma etik untuk kehidupan bernegara masih perlu bahkan amat penting untuk ditetapkan. Etika kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat ini bertujuan untuk :

1. Memberikan landasan etik moral bagi seluruh komponen bangsa dalam menjalankan kehidupan kebangsaan dan berbagai aspek

2. Menentukan pokok-pokok etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

3. Menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai etika dan moral dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasayarakat.

Sumber : www.pendidikankita.com

Tuesday, June 30, 2009

Pendidikan Mental




1. Pengartian Pendidikan Mental

Pendidikan berasal dari kata "didik", Lalu kata ini mendapat awalan kata "me" sehingga menjadi "mendidik" artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232).

Selanjutnya pengertian "pendidikan" adalah proses perubahan sikap dan tatalaku sseorang atau kelompok orang dalam mendewasakn manusia, seperti yang tertera dalam undang-undang Sistem Pendidikan Nasional, No.2 tahun 1989. "Pendidikan" adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya dimasa yang akan datang.

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan mental dalam penelitian ini adalah suatu usaha sadar yang dilakukan untuk memelihara, melatih, membimbing, dan mengarahkan batin dan watak manusia (mental) yang lebih baik supaya menjadi manusia seutuhnya. Artinya sosok manusia yang mempunyai kekuatan baik fisik maupun psikis dan mampu mengadakan perubahan-perubahan dalam tingkah laku dan sikap dimasa yang akan dating di dalam lingkungannya. Melihat dari pernyataan di atas tidak terpaku pada pendidikan di luar sekolah, salah satunya pendidikan mental lewat seni beladiri sebagaimana yang didefinisikan oleh PB. IPSI bersama Bakin. (Pepdikbud, 1985:46). Seni beladiri adalah basis budaya manusia Indonesia untuk membela eksistensi (kemandirian) dan integritas (kemanunggalan) terhadap lingkungan hidup guna meningkatkan hidup guna meningktakan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Sebagaimana yang tertera dalam Undang-Undang NO.2 Tahun 1989 Tentang sistem Penidikan Nasional BAB II Pasal 4.

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan.

2. Metode Pendidikan Mental

Metode adalah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian "cara tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu" (Ahmad Tafsir,1996:9), sehingga metode pendidikan mental dapat diartikan yaitu suatu cara tepat dan cepat dalam melakukan latihan, bimbingan, pemeliharaan batin dan watak manusia (mental).

Mawardi Labay El-Sulthani (2001:24) mengemukakan perkembangan mental akan mejadi mental yang baik atau mental yang jelek, tergantung alam ligkungan atau pendidikan yang akan mempengaruhinya. Bertolak dari pernyataan di atas pendidikan mental sangat penting bagi manusia supaya memiliki mental yang kuat, dengan cara yang tepat dan cepat secara bertahap.

A. Mawardi Labay El-Sulthan (2001:5) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Mental Yang Kuat Untuk Sukses Dan Selamat bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan menanamkan Iman dan Taqwa.

B. Zakiah Darajat (1990:90) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Agama dan Kesehatan Mental bahwa pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara mengambil nilai-nilai yang ada pada lingkungan terutama lingkungan keluarga sendiri yaitu nilai-nilai agama moral dan social.

C. Abu Ahmadi (1998:58) mengutarakan pembinaan mental yang baik yaitu dengan cara:

1) Mengembangkan potensi-potensi yang ada pada diri manusia.
2) Memberikan pencerahan batin dengan memberi kemampuan melihat rangkaian problem yang sedang dihadapi.
3) Membangkitkan semangat persatuan dan kesatuan dalam kehidupan.

D. Balnadi Sutadipura 1985:37) mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental pembinaan mental itu dengan cara:

1) Menanamkan nomos (aturan) pada diri manusia
2) Menanamkan rasa tanggung jawab
3) Menanamkan rasionalitas dan common sense (merasa ingin diakui)
4) Menanamkan disiplin

E. Robert peek dalam buku Kompetensi Guru Dan Kesehatan Mental karangan Balnadi Sutadipura, mengemukakan untuk menanamkan mental yang baik adalah dengan cara menanamkan :

1) Initiative, inisiatif atau alpukah yaitu tidak mudah terpengaruh.
2) Self-directing, sifat untuk berani menetapkan arahan hidup atau perbuatan yang diyakininya.
3) Emosional Maruting ialah kedewasaan emosi: kemampuan untuk melakukan reaksi terhadap yang dialaminya, dilihatnya, didengarnya, dirasakan, dibacanya, dan tidak mudah terpengaruh secara berlebihan.
4) Self- Realzing drive: suatu kemampuan untuk atas kemampuan sendiri adalah melakukan segala sesuatu dengan mengerahkan kemampuan yang ada padanya.
5) Self- acceptance: sikap yang tidak menimbulkan penyesalannya atas kehdiran di dunia ini.
6) Resfect for other: menaruh rasa hormat terhadap orang lain.

F. Singgih D. Gunarsa (1996:104) dalam psikologi olahraga mengemukakan bahwa dalam pendidikan mental yang harus dididik antara lain:

1) Adanya penanaman pengendalian emosi dengan cara:

(a) Adanya keterbukaan antara pelatih dan anggotanya.
(b) Latihan simulasi untuk membiasakan (condifioning) atau pendidikan, ialah usaha untuk membiasakan diri dan supaya tidak asing dengan segala yang akan dihadapinya.
(c) Latihan menghilangkan atau mengurangi kepekan (desintiuitication). Latihan yang diarahkan agar tidak mudah tergoncang jiwanya karena memikirkan sesuatu perkara yang buruk.
(d) Latihan relaksasi progesif (progesive relaxation training) untuk mengurangi ketegangan melalui peregangan atau pelemasan otot sehingga tercipta suasana yang lebih tenang.
(e) Latihan autosuggestion, centring adalah latihan untuk memusatkan perhatian terhadap kehidupan yang sedang dihadapinya dan menyingkirkan pikiran-pikiran yang mengganggu (menyerupai meditasi).

2) Memberi motivasi dengan cara

(a) Menanamkan nilai-nilai kepuasan tersendiri dalam melakukan sesuatu.
(b) Memberi dorongan kepercayaan diri dengan meyakinkan kemampuannya yang telah terpupuk dari dulu melalui usaha latihan yang telah dilakukan.

3) Memberi latihan aspek kognisi dengan cara:

(a) Seseorang harus bisa memusatkan perhatian pada sesuatu yang sedang dihadapinya dan mencari jaln keluarnya sendiri.
(b) Memberi gambaran suatu kesalahan-kesalahan atau kelemahan orang lain yang harus diperbaiki dan harus dipelajari timbulnya kesalahan.

Dalam Buku Dasar-Dasar Respons Relaksasi Karangan Herbert Benson Dan William Procror mengemukakan pembinaan mental yang baik adalah:

G. B.F Skiner (2000:93) mengemukakan pendidikan mental dilakukan dengan cara adanya suatu usaha perubahan lingkungan sehingga dapat mengendalikan perilaku, dengan memberikan suatu dorongan atau memberikan sesuatu ( hadiah)

H. Neil E. Miller (2000:94) mengemukakan pendapatnya bahwa pendidikan mental dilakukan dengan cara pengendalian proses tubuh bawah sadar melalui proses Biofedback meliputi pemberian hadiah dan hukuman.

I. Yogi Maharishi Mahesha (2000:101) memaparkan bahwa pendidikan mental dilakukan dengan bermeditasi (Transcendental Meditation).

J. H.H. Shult seorang ahli syaraf Jerman (2000:113) mengamukakan pendidikan mental dilakukan dengan pelatihan autogenik yaitu salah satu teknik terapi medis yang didasarkan pada pelatihan mental, sehingga orang yang bersangkutan mampu secara sadar mengantarkan dirinya ke dalam keadaan yang kurang stabil atau disebut keadaan Trofo Trofis Hess dengan cara:

1) Memusatkan satu perasaan terhadap beban yang sedang dialaminya.
2) Sensasi (kesan) hangat dianggota badan.
3) Mangatur detak jantung.
4) Konsentrasi pasif pada pernafasan.
5) Mengupayakan kesejukan pikiran.

Pendapat para pakar di atsa menunjukkan keselarasan dalam membentuk mental yang sehat dan kuat menurut para pakar pendidikan dapat penulis rumuskan menjadi beberapa aspek antara lain sebagai berikut :

1. Pembinaan mental melalui agama.
2. Pembinaan mental melalui pribadi.
3. Pembinaan mental melalui lingkungan.

Pembinaan mental melalui agama yaitu dengan cara menanamkan keimanan dan ketakwaan, pembinaan mental melalui pribadi dengan cara mengendalikan emosi, motivasi, berfikir positif, dan mengembangkan potensi diri, sedangkan pembinaan mental melalui lingkungan dengan cara memahami situasi keadaan masyarakat, mengambil nilai-nilai positif dalam keluarga dan masyarakat,dari ketiga aspek itu adanya keterkaitan antara yang satu dan yang lainnya sehingga apabila yang satu tidak terpenuhi maka yang lainnya juga tidak akan maksimal.

Sumber : www.pendidikankita.com

Saturday, June 27, 2009

Kiat Mendidik Anak Menjadi Insan Mulia




By: agussyafii

Satu malam datang seorang Ibu bersama suami tercintanya. Ibu ini bertanya pada saya bagaimana mendidik anak menjadi insan mulia. Saya katakan padanya, anak akan menjadi insan mulia jika anak diperlakukan dengan penuh kemuliaan.

Pendidikan yang memuliaan anak berarti meningkatkan kualitas spiritual pada diri anak. Maka perlu pendidikan spiritual bagi anak agar kelak mereka menjadi insan mulia.

Tidak ada yang mengingkari bahwa kualitas manusia itu diukur dari kualitas jiwanya, moralnya atau akhlaknya, meski masih pula terdapat kelompok manusia yang lebih menghargai dimensi jasmaninya. Kesehatan jasmani manusia tumbuh bersama gizi yang dikonsumsi sebagaimana kesehatan jiwa juga tumbuh bersama konsumsi rohaniah. Dalam perjalanan hidupnya manusia selalu berjumpa dengan konflik yang berkesinambungan; konflik antara dorongan instink, syahwat dan hawa nafsu dengan nilai-nilai akumulatif akidah, konflik antara kejujuran dengan kebohongan, antara kebaikan dengan kejahatan, antara egoisme dengan mementingkan orang lain (itsar).

Akal dapat berfikir, membantu manusia memecahkan masalah (problem solving), dan
untuk meningkatkan kualitas akal (intelektualnya) dapat diupayakan melalui pendidikan yang bersifat kognitip. Hati atau kalbu (qalb), meski karakternya tidak konsisten, tetapi ia dapat membantu manusia memahami peristiwa yang rumit. Lebih dari itu manusia masih memiliki hati nurani yang konsisten menyuarakan kebenaran dan kejujuran. Meski demikian, tetap saja ada (bahkan kebanyakan) manusia yang bodoh, tidak berperasaan dan nuraninya mati.

Dulu orang mengedepankan kecerdasan intelektual sebagai kunci kesuksesan. Belakangan orang menganggap peran kecerdasan intelektual (IQ) itu hanya 20 %, selebihnya oleh kecerdasan emosional (EQ). Terakhir orang lebih menengok kecerdasan Spiritual (SQ) sebagai penentu yang dominan. Ketika bangsa Indonesia terpuruk pada krisis yang memalukan seperti sekarang ini, orang menyalahkan sistem pendidikan nasional sebagai penyebab, yakni pendidikan yang terlalu
mengedepankan aspek kognitif, mengabaikan aspek afektif. Jika krisis ekonomi dapat diperbaiki dalam waktu singkat, tidak demikian dengan krisis moral, apalagi jika krisis itu sudah mencapai keruntuhan moral bangsa. Mendidik moral manusia membutuhkan waktu yang panjang, konsistensi, konprehensif dan berkesinambungan. Masyarakat Indonesia dewasa ini sudah sangat mendesak kebutuhannya pada pendidikan spiritual.

Pendidikan adalah satu proses yang bertujuan membentuk pola perilaku; misalnya pendidikan kemiliteran, pendidikan kewiraswastaan, pendidikan agama. Proses itu biasanya membutuhkan peran seorang pendidik, tetapi manusia juga bisa mendidik diri sendiri setelah berjumpa dengan pengalaman yang mendidik.

Oleh karena itu pendidikan spiritual lebih menekankan pada pemberian kesempatan agar anak mengalami sendiri suatu pengalaman spiritual. Jika bercermin kepada perilaku Nabi Muhammad, maka nampaknya lembaga pendidikan spiritual yang dialami oleh Muhammad bertafakkur, mengasah nurani, menajamkan hati, dan mengelola emosi serta mengendalikan nafsu.

Dalam perspektif Islam, Pendidikan spiritual adalah proses tranformasi sistem nilai Qur’ani ke dalam potensi kejiwaan pada anak melalui perjuangan dan pelatihan jiwa (mujahadah) agar setiap kali merespon stimulus dalam kehidupan, jiwanya tunduk kepada nilai-nilai tersebut dengan tenang, senang dan yakin. Wujud mujahadah itu adalah zikir, puasa sunnat, sholat dhuha.

Maka anak yang telah memiliki kecerdasan spiritual disebut sebagai ‘arif atau min al ‘arifin, secara sosiologis sering disebut sebagai yang arif bijaksana. Ma‘rifat tidak menetap, melainkan sesaat-sesaat (sa‘atan sa‘atan), seperti disebut dalam hadis riwayat Hanzalah, tetapi pengaruhnya menghunjam dalam kejiwaan pada anak, mempengaruhi persepsi dan mewarnai perilaku. Kelak anak menjadi insan mulia. Insya Alloh.

Wassalam,
agussyafii
www.agussyafii.blogspot.com

Wednesday, June 24, 2009

30 kiat mendidik anak




Anak merupakan amanah yang harus kita jaga sebaik mungkin. Pendidikan yang baik sejak dini akan membentuk karakter anak.Berikut ini adalah beberapa kiat untuk mendidik anak

30 KIAT MENDIDIK ANAK

Apabila telah tampak tanda-tanda tamyiz pada seorang anak, maka selayaknya dia mendapatkan perhatian sesrius dan pengawasan yang cukup. Sesungguhnya hatinya bagaikan bening mutiara yang siap menerima segala sesuatu yang mewarnainya. Jika dibiasakan dengan hal-hal yang baik, maka ia akan berkembang dengan kebaikan, sehingga orang tua dan pendidiknya ikut serta memperoleh pahala. Sebaliknya, jika ia dibiasakan dengan hal-hal buruk, maka ia akan tumbuh dengan keburukan itu. Maka orang tua dan pedidiknya juga ikut memikul dosa karenanya.

Oleh karena itu, tidak selayaknya orang tua dan pendidik melalaikan tanggung jawab yang besar ini dengan melalaikan pendidikan yang baik dan penanaman adab yang baik terhadapnya sebagai bagian dari haknya. Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai
berikut:

1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

2. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

3. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini
untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya memen-tingkan perut saja.

4. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.

5. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaumwanita.

6. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.

7. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

8. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur’an dan buku- buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur’an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi n dan juga pelajaran fikih dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan menela-dani mereka.

Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy’ariyah, Mu’tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid’ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak ber-kembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

9. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.

10. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan mengahafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

11. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagia- kannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebar-kan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

12. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

13. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam ber-komunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan
dari ayah.

14. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan
dan melemahnya kondisi badan.

15. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

16. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

17. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyi-bukkan diri dengan kegiatan itu.

18. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

19. Melarangnya dari membangga-kan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu’, lemah lembut dan menghormati temannya.

20. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

21. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

22. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majlis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

23. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

24. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah.

25. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

26. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.

27. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

28. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

29. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-
perintah.

30. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

Demikian adab-adab yang berkaitan dengan pendidikan anak di masa tamyiz hingga masa-masa menjelang baligh. Uraian di atas adalah ditujukan bagi pendidikan anak laki-laki. Walau demikian, banyak di antara beberapa hal di atas, yang juga dapat diterapkan bagi pendidikan anak perempuan.

Wallahu a’lam.

ditulis oleh : Abdul Aziz.

Sumber : www.jilbab.or.id

Monday, June 22, 2009

Kiat Mendidik Anak agar Sholih/Sholihah




Written by abdullah

Adakah satu saja di dunia ini seseorang yang mau menolak dengan pemberian pahala dari Allah swt? Insya Allah semua manusia yang berakal sehat pasti akan menjawab “Tidak ada”. Setiap manusia di dunia ini tidak ada yang menolak untuk memperoleh pahala dari Allah swt. Dalam sebuah riwayat telah dikatakan bahwa ada tiga macam amal yang tidak akan pernah terputus pahalanya, yaitu shodaqoh jariah, anak yang sholih, dan ilmu yang bermanfaat.

Merujuk pada kandungan hadits di atas, satu poin yang cocok dengan tema adalah “anak yang sholih”. Coba anda bayangkan sejenak, bagaimanakah jadinya hari-hari anda, hidup anda, masa tua anda, bahkan nasib anda setelah meninggalkan dunia ini jika memiliki seorang anak yang bermoral bejat, durhaka kepada Allah dan orang tua. Na’udzubillah! Tentunya hari-hari dalam kehidupan keluarga anda akan jauh dari keharmonisan. Mungkin setiap hari anda akan berteriak-teriak, marah-marah, makan hati karena melihat tingkah laku anak anda yang suka berjudi, berkelahi, minum-minuman keras,pecandu narkoba, dan segala tingkah laku yang menyimpang dari syariat islam.

Insya Allah akan lain keadaan yang anda rasakan jika memiliki seorang anak yang sholih/sholihah. Yang hobi ke masjid untuk sholat berjamaah, rajin mengaji dan membantu orang tua, mengerti akan tugas-tugasnya sebagai seorang pelajar, rajin mendoakan kedua orang tuanya, dan tidak pernah menyakiti hati kedua ornag tuanya baik dengan sikap maupun tutur katanya. Kalau sudah begitu…siapa yang tidak mendambakan memiliki anak yang sholih/sholihah?

Dalam hal ini ada sebuah peribahasa yang mengatakan “Menuntut ilmu di masa muda bagai mengukir di atas batu, menuntut ilmu di masa tua bagai mengukir di atas air”.

Bila kita mengharapakan seorang akan yang sholih/sholihah, hendaknya semua itu dapat kita perjuangkan sejak dini. Beri ilmu pengetahuan dan pemahaman tentang agama islam kepada anak sejak dini. Karena, pada usia dini seorang anak laksana kertas putih yang belum bernoda setitikpun, sehingga akan mudah bagi kita untuk menulisinya dengan kalimat-kalimat islami dan Robbani di atasnya. Lain halnya jika kita baru mulai memberikan pendidikan di usianya yang sudah mulai dewasa, meskipun tidak menutup kemungkinan untuk berhasil, namun tentunya hal tersebut akan jauh lebih sulit dan hasilnyapun jauh lebih sedikit atau bahkan nihil. Hal ini terjadi karena pada usia yang telah dewasa, kertas putih tadi biasanya seudah penuh dengan titik-titik, garis-garis, bahkan kata dan kalimat yang beraneka bentuk, makna dan warna. Menulis di atas kertas yang sudah penuh dengan noda dan coretan tentunya akan sangat sulit daripada menulis di atas kertas putih yang masih polos. Kita akan dapat menulisi, menggambar, dan memberinya warna dengan mudah, sesuai dengan keinginan kita.

Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi sholih/sholihah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak anda sejak dini:

Bangunkan shubuh sejak balita

Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

Berikan lingkungang pergaulan dan pendidikan yang islami

Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus islam di Masjid dan sebagainya.

Jangan egois!

Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak anda untuk mengaji atau pergi sholat berjamaah, sedangkan anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

Safari Masjid

Bawalah anak anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan sholat berjamaah dihati anak.

Perkenalkan batasan aurat sejak dini

Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk merubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.

Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

Selalu membawa perlengkapan sholat

Ajarkan kepada anak untuk selalu membawa perlengkapan sholat kemanapun mereka pergi sekiranya akan melewati masuknya waktu sholat.

Meminimalisir mendengarkan musik-musik non islami

Minimalisir mendengarkan lagu-lagu non islami seperti lagu-lagu picisan, rock, barat, dan lain-lain. Maksimalkan membaca AL Quran berjamaah, mendengarkan kaset mu’rotal, mendengarkan kaset ceramah atau nasyid islam.

Buatlah jadwal nonton TV

Hendaknya, orang tua tidak membiasakan menonton acara TV bersama anak yang tidak mengandung unsur pendidikan kepada anak, misalnya sinetron, film horor, film-film cengeng (romantika), dan lain-lain.

Ajarkan nilai-nilai islam secara langsung
Ajarkan nilai-nilai islam yang anda kuasai secara langsung kepada anak anda sejak dini. Sampaikan dengan bahasa-bahasa yang menarik, misalnya melalui sebuah cerita.

Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran

Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran, sesuai dengan kadar kemampuan si anak. Hubungkan hadits dan ayat Al Quran ketika kita memberikan nasihat atau teguran mengenai perilakunya sehari-hari.

Jadilah sahabat setia baginya

Perkecil menunjukkan sikap menggurui kepada anak, bersikaplah sebagai seorang sahabat dekatnya. Jadilah tempat curhat yang nyaman, sehingga permasalahan anak tidak akan disampaikan kepada orang yang salah, yang akhirnya akan memberikan solusi yang salah pula.

Ciptakan nuansa kehangatan

Nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga akan memberikan kenyamanan bagi seluruh anggotanya, termasuk anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat diluar sana yang ia anggap lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri.
Sampaikan dengan dengan bijak, sabar, dan tanpa bosan

Ingat! Yang sedang anda bentuk adalah makhluk bernyawa, bukan makhluk yang tidak bernyawa. Maka sampaikan semuanya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan jangan pernah merasa bosan untuk mengulangnya. Jangan menggunakan kekerasan, dan hindari emosi yang akan membuat anak sakit hati
Demikian beberapa tips untuk membentuk anak yang taat (sholih/sholihah), semoga tips di atas dapat memberikan barokah bagi kita semua. Amin

“Maka berilah peringatan. Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberikan peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka”. QS. Al Ghosyiyah : 21 - 22

Sumber : www.syahadat.com

Friday, June 19, 2009

Dapat Rangking 30 belum Tentu Bodoh




Ustazah Neno Warisman

SETIAP Minggu 2500 situs porno bertambah di internet, hal ini disebabkan karena situs porno merupakan komoditi yang paling menggiurkan yang dapat menghasilkan jutaan rupiah,sama halnya dengan pengusaha Narkoba. Parahnya, yang menjadi sasaran dari beredarnya situs-situs porno dan Narkoba itu adalah anak-anak yang berusia dibawah 15 tahun. Hal ini sebagaimana diungkapkan Ustazah Neno Warisman dalam talk show yang digelar oleh Al-Izzah di Aula Samu Siret Sabtu (19/05).

Indonesia sendiri kata Neno Warisman sudah menjadi produsen yang tidak bisa ditutup,kenapa demikian ? Ia pun tidak tahu jawabnya, karena seperti halnya dengan kasus Munir yang sampai saat ini tidak diketahui siap pembunuhnya.

Karenanya sesuai dengan thema dari kegiatan talk show tersebut yakni "Pengaruh Pola Asuh Orang Tua, Media Dan Elektronik Terhadap Perilaku Dan Potensi Anak", dalam talk show tersebut Neno Warisman pun memberikan arahan bagaimana cara mendidik anak yang baik sehingga tidak terpengaruh terhadap media elektronik seperti dari TV dan internet yang berdampak negatif terhadap perkembangan si anak.

"Jadi dalam mendidik si anak bukan hanya sang ibu saja yang dituntut perannya,tapi juga bagi sang ayah. Hanya sayangnya sampai saat ini belum ada 'Hari Ayah',"tandasnya.

Dalam talk show tersebut, Neno Warisman juga berpesan kepada para orang tua untuk menjauhi pola mendidik anak dengan kekerasan, seperti memarahi sang anak setiap hari, termasuk soal perkataan yang mengatakan anak setan. "Kalau misalnya anaknya dikatakan anak setan,lantas ibunya siapa dong,"ujar Neno seraya menyelipkan sedikit guyon membuat peserta pun pada tersenyum-senyum.

Selain itu Ia juga meminta kepada orang tua untuk merubah paradigma yang selalu menyebut anaknya bodoh apabila tidak mendapat rangking satu dan dua. Sebab menurutnya anak itu tidak ada yang bodoh, karena Allah SWT telah memberikan keunikan dan kelebihan yang berbeda-beda pada sang anak. Dan oang tua itu harus menerima anak dengan apa adanya "Anak yang mendapat rengking 30 itu belum tentu bodoh,tetapi menyimpan kelebihan yang belum muncul dari dirinya,"ujarnya.

Untuk menghindari agar anak tidak terjerumus ke hal -hal yang negatif, Neno Warisman pun memberikan tiga tips yakni mengenali diri anak, mengenali diri Ortu serta adanya komunikasi antara ibu dan anak atau anak dan ayah. Dalam melakukan komunikasi ini ada rumusnya yang dapat mengikuti cara berkomunikasi Rasullulah, yakni dengan bahasa tubuh yang menyenangkan,sehingga jangan sampai mendidik anak menjadi pria dewasa yang kekanak -kanakkan seperti yang terjadi di DPR RI.

Orang tua juga diminta untuk melakukan planning dan tidak menciptakan huru -hara, sehingga setiap hari tidak ada kalimat yang bernada marah atau omelan kepada anaknya. "Kita tidak boleh bimbing anak dengan marah karena Rasullulah itu tidak pernah marah,"pesannya.

Dan sebagai orang tua diminta untuk mempunyai misi agar bagaimana dapat mendidik anaknya untuk selamat sampai di akhirat. Dari apa yang disampaikan Ustazah Neno Warisman itu mendapat respon yang cukup banyak dari para undangan yang hadir.

Seperti Ketua Jalasenastri, Ny M Ricard yang menyampaikan keluhannya atas kendala yang dihadapi dalam mendidik anak. Bahwa karena monotton dalam membimbing kedua anaknya, sehingga hampir setiap hari anaknya diomeli pada saat bangun. Karenanya ia minta saran bagaimana mengatasinya.

Menjawab pertanyaan tersebut, Neno Warisman mengatakan perlunya menciptakan rumah yang aman dan nyaman, karena kalau orang tua yang cemberut tentu hatinya juga tidak nyaman. Jadi tugas dari orang tua adalah mempertajam emosi untuk tidak menunjukkan wajah yang cemberut.

Bahkan Uztazah Neno juga memberikan contoh kehidupan nyata dari orang yang kaya raya, tapi anaknya tidak betah di rumah. Kenapa demikian? karena ibunya banyak marah, sementara ayahnya yang pengusaha lebih banyak memberikan senyum kepada kliennya dari pada kepada anaknya.

Sementara itu dari pantauan Koran ini, talk show yang dipandu oleh EO Smart Beda Entrp diakhir dengan memberikan hadiah kepada para undangan yang mengajukan pertanyaan.

Sementara itu dihari kedua seminar berthema "Pengaruh Dan Strategi Kecerdasan Emosi, Spiritual Dan Intelektual terhadap Perkembangan Dan Potensi Anak" juga tidak kalah menariknya.

Dikesempatan itu, Neno Warisman menegaskan kalau semua agama itu tidak sama. Bahwa orang tua yang berbeda keyakinan hanya akan membingungkan si anak. Acara talk show dan seminar sehari dengan ketua panitia pelaksana, Ida Lusiana, SP dengan didampingi bendahara panitia Hj Rosmia Mataliti, SE berlangsung sukses

Kiat Mendidik Anak Agar Gemar Menabung




Salah satu hal yang paling penting dalam mendidik anak adalah keteladanan dan lingkungan. Oleh karena itu untuk mendidik anak agar gemar menabung, otomatis diperlukan keteladanan dari lingkungan yang gemar menabung.

Untuk membangkitkan minat menabung pada diri anak, yaitu dengan cara:

  1. Siapkan celengan dengan bentuk yang menarik dan unik
  2. Bedakan warna setiap celengan sesuai warna favorit pemiliknya dan cantumkan nama pemiliknya, misalnya Abi, Ummi, Aa, Ade dengan huruf yang variatif.
  3. Letakan celengan berdampingan ditempat yang mudah dilihat dan dijangkau.
  4. Setiap pagi, setelah anak mendapat jatah uang saku. ayah atau ibu mendahului mengisi celengan di depan anak sambil berkata, "Wah celengan Abi sudah banyak nih isinya. Abi pasti jadi juara."
  5. Celengan dibuka setiap akhir bulan dan dihitung jumlahnya bersama-sama.
  6. Pemilik jumlah terbanyak, celengannya berhak menempati urutan paling kanan diikuti juara dua dan seterusnya.
  7. Uang celengan boleh digunakan untuk membeli barang yang diinginkan tanpa ada tambahan dari orangtua.
Selain itu, ajarkan nilai uang pada anak agar ia tahu cara yang baik dan halal untuk mendapatkan uang sehingga ia dapat menghargai uang tanpa perlu memujanya. Buatlah Bank keluarga bagi anak-anak dengan mekanisme seperti halnya Bank yang sebenarnya, namun pasti ada bedanya yaitu ada pengawasan anda sebagai orangtua. Tetapi jangan ajarkan bahwa Bank adalah tempat satu-satunya untuk menabung

Sebagai orangtua jangan lupa untuk mengajarkan pada anak-anak untuk menyumbang dan berbuat baik dari uangnya sendiri, dan katakan bahwa dengan menyumbang berarti ia sudah menabung pahala yang bisa dinikmati dalam surga kelak. InsyaAllah.

Guna meningkatkan semangat menabung pada anak, orang tua boleh menawarkan hadiah yang diminta anak bila tabungannya dalam jangka waktu tertentu lebih banyak jumlahnya dari tabungan si kakak atau adiknya. Uang yang akan ditabungkan tidak harus langsung dari orang tua, dapat juga memberikan suatu tugas dan memberinya penghargaan dengan uang tapi dengan syarat ditabung. Hal ini sekaligus mengajarkan penghargaan atas suatu pekerjaan anak.

Sebaiknya, anak diberikan kebebasan untuk membeli barang atau benda apapun yang disukainya dengan catatan masih dalam kaidah kesopanan dan kepatutan usia anak. Ceritakan pula pengalaman orang-orang sukses dengan rajin menabung, bekerja dan banyak berdoa. Jadi jangan pernah bosan mengingatkan anak agar menyisihkan uang sakunya untuk dapat menabung.

Tulisan ini diambil dari Majalah Ummi, no. 9/XVI Januari - Februari 2005/1425 H

Milis Sabili
Dikirim oleh: Ummu Ja'far
Jum'at, 09 September 2005

Sumber : www.eramuslim.com

Sunday, June 14, 2009

Hakikat Ilmu




Pengertian Ilmu

Apakah ilmu itu? Moh. Nazir, Ph.D (1983:9) mengemukakan bahwa ilmu tidak lain dari suatu pengetahuan, baik natura atau pun sosial, yang sudah terorganisir serta tersusun secara sistematik menurut kaidah umum. Sedangkan Ahmad Tafsir (1992:15) memberikan batasan ilmu sebagai pengetahuan logis dan mempunyai bukti empiris. Sementara itu, Sikun Pribadi (1972:1-2) merumuskan pengertian ilmu secara lebih rinci (ia menyebutnya ilmu pengetahuan), bahwa :

“ Obyek ilmu pengetahuan ialah dunia fenomenal, dan metode pendekatannya berdasarkan pengalaman (experience) dengan menggunakan berbagai cara seperti observasi, eksperimen, survey, studi kasus, dan sebagainya. Pengalaman-pengalaman itu diolah oleh fikiran atas dasar hukum logika yang tertib. Data yang dikumpulkan diolah dengan cara analitis, induktif, kemudian ditentukan relasi antara data-data, diantaranya relasi kausalitas. Konsepsi-konsepsi dan relasi-relasi disusun menurut suatu sistem tertentu yang merupakan suatu keseluruhan yang terintegratif. Keseluruhan integratif itu kita sebut ilmu pengetahuan.”

Di lain pihak, Lorens Bagus (1996:307-308) mengemukakan bahwa ilmu menandakan seluruh kesatuan ide yang mengacu ke obyek (atau alam obyek) yang sama dan saling keterkaitan secara logis.

Dari beberapa pengertian ilmu di atas dapat diperoleh gambaran bahwa pada prinsipnya ilmu merupakan suatu usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan pengetahuan atau fakta yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, dan dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode yang biasa dilakukan dalam penelitian ilmiah (observasi, eksperimen, survai, studi kasus dan lain-lain)

Syarat-Syarat Ilmu :

Suatu pengetahuan dapat dikatakan sebagai ilmu apabila dapat memenuhi persyaratan-persyaratan, sebagai berikut

1. Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti, baik yang berhubungan dengan alam (kosmologi) maupun tentang manusia (Biopsikososial). Ilmu mensyaratkan adanya obyek yang diteliti. Lorens Bagus (1996) menjelaskan bahwa dalam teori skolastik terdapat pembedaan antara obyek material dan obyek formal. Obyek formal merupakan obyek konkret yang disimak ilmu. Sedang obyek formal merupakan aspek khusus atau sudut pandang terhadap ilmu. Yang mencirikan setiap ilmu adalah obyek formalnya. Sementara obyek material yang sama dapat dikaji oleh banyak ilmu lain.

2. Ilmu mensyaratkan adanya metode tertentu, yang di dalamnya berisi pendekatan dan teknik tertentu. Metode ini dikenal dengan istilah metode ilmiah. Dalam hal ini, Moh. Nazir, (1983:43) mengungkapkan bahwa metode ilmiah boleh dikatakan merupakan suatu pengejaran terhadap kebenaran yang diatur oleh pertimbangan-pertimbangan logis. Karena ideal dari ilmu adalah untuk memperoleh interrelasi yang sistematis dari fakta-fakta, maka metode ilimiah berkehendak untuk mencari jawaban tentang fakta-fakta dengan menggunakan pendekatan kesangsian sistematis. Almack (1939) mengatakan bahwa metode ilmiah adalah cara menerapkan prinsip-prinsip logis terhadap penemuan, pengesahan dan penjelasan kebenaran. Sedangkan Ostle (1975) berpendapat bahwa metode ilmiah adalah pengejaran terhadap sesuatu untuk memperoleh sesutu interrelasi. Selanjutnya pada bagian lain Moh. Nazir mengemukakan beberapa kriteria metode ilmiah dalam perspektif penelitian kuantitatif, diantaranya: (a) berdasarkan fakta, (b) bebas dari prasangka, (c) menggunakan prinsip-prinsip analisa, (d) menggunakan hipotesa, (e) menggunakan ukuran obyektif dan menggunakan teknik kuantifikasi. Belakangan ini berkembang pula metode ilmiah dengan pendekatan kualitatif. Nasution (1996:9-12) mengemukakan ciri-ciri metode ilimiah dalam penelitian kualitatif, diantaranya : (a) sumber data ialah situasi yang wajar atau natural setting, (b) peneliti sebagai instrumen penelitian, (c) sangat deskriptif, (d) mementingkan proses maupun produk, (e) mencari makna, (f) mengutamakan data langsung, (g) triangulasi, (h) menonjolkan rincian kontekstual, (h) subyek yang diteliti dipandang berkedudukan sama dengan peneliti, (i) mengutama- kan perspektif emic, (j) verifikasi, (k) sampling yang purposif, (l) menggunakan audit trail, (m)partisipatipatif tanpa mengganggu, (n) mengadakan analisis sejak awal penelitian, (o) disain penelitian tampil dalam proses penelitian.

3. Pokok permasalahan(subject matter atau focus of interest). ilmu mensyaratkan adanya pokok permasalahan yang akan dikaji. Mengenai focus of interest ini Husein Al-Kaff dalam Kuliah Filsafat Islam di Yayasan Pendidikan Islam Al-Jawad menjelaskan bahwa ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka masalah masalah yang sederhana tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi (Husein Al-Kaff, Filsafat Ilmu,)

Karakteristik Ilmu

Di samping memiliki syarat-syarat tertentu, ilmu memiliki pula karakteristik atau sifat yang menjadi ciri hakiki ilmu. Randall dan Buchler mengemukakan beberapa ciri umum ilmu, yaitu : (1) hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama, (2) Hasil ilmu kebenarannya tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan, dan (3) obyektif tidak bergantung pada pemahaman secara pribadi. Pendapat senada diajukan oleh Ralph Ross dan Enerst Van den Haag bahwa ilmu memiliki sifat-sifat rasional, empiris, umum, dan akumulatif (Uyoh Sadulloh,1994:44).

Sementara, dari apa yang dikemukakan oleh Lorens Bagus (1996:307-308) tentang pengertian ilmu dapat didentifikasi bahwa salah satu sifat ilmu adalah koheren yakni tidak kontradiksi dengan kenyataan. Sedangkan berkenaan dengan metode pengembangan ilmu, ilmu memiliki ciri-ciri dan sifat-sifat yang reliable, valid, dan akurat. Artinya, usaha untuk memperoleh dan mengembangkan ilmu dilakukan melalui pengukuran dengan menggunakan alat ukur yang memiliki keterandalan dan keabsahan yang tinggi, serta penarikan kesimpulan yang memiliki akurasi dengan tingkat siginifikansi yang tinggi pula. Bahkan dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal

Sementara itu, Ismaun (2001) mengetengahkan sifat atau ciri-ciri ilmu sebagai berikut : (1) obyektif; ilmu berdasarkan hal-hal yang obyektif, dapat diamati dan tidak berdasarkan pada emosional subyektif, (2) koheren; pernyataan/susunan ilmu tidak kontradiksi dengan kenyataan; (3) reliable; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keterandalan (reabilitas) tinggi, (4) valid; produk dan cara-cara memperoleh ilmu dilakukan melalui alat ukur dengan tingkat keabsahan (validitas) yang tinggi, baik secara internal maupun eksternal, (5) memiliki generalisasi; suatu kesimpulan dalam ilmu dapat berlaku umum, (6) akurat; penarikan kesimpulan memiliki keakuratan (akurasi) yang tinggi, dan (7) dapat melakukan prediksi; ilmu dapat memberikan daya prediksi atas kemungkinan-kemungkinan suatu hal.

Daftar Pustaka

Achmad Sanusi,.(1998), Filsafah Ilmu, Teori Keilmuan, dan Metode Penelitian : Memungut dan Meramu Mutiara-Mutiara yang Tercecer, Makalah, Bandung :P PS-IKIP Bandung.

Achmad Sanusi, (1999), Titik Balik Paradigma Wacana Ilmu : Implikasinya Bagi Pendidikan, Makalah, Jakarta : MajelisPendidikan Tinggi Muhammadiyah.

Agraha Suhandi, Drs., SHm.,(1992), Filsafat Sebagai Seni untuk Bertanya, (Diktat Kuliah), Bandung : Fakultas Sastra Unpad Bandung.

Filsafat_Ilmu,http://members.tripod.com/aljawad/artikelfilsafat_ilmu.htm

Ismaun, (2001), Filsafat Ilmu, (Diktat Kuliah), Bandung : UPI Bandung.

Jujun S. Suriasumantri, (1982), Filsafah Ilmu : Sebuah Pengantar Populer, Jakarta : Sinar Harapan.

Mantiq, http://media.isnet.org./islam/etc/mantiq.htm.

Moh. Nazir, (1983), Metode Penelitian, Jakarta : Ghalia Indonesia

Muhammad Imaduddin Abdulrahim, (1988), Kuliah Tawhid, Bandung : Yayasan Pembina Sari Insani (Yaasin)

Sumber : www.akhmadsudrajat.wordpress.com